Kapasitas Pengelolaan Sampah Turun, Daur Ulang Justru Naik
Kapasitas pengelolaan sampah nasional turun dari 62,6 persen ke kisaran 33 persen dalam periode 2021-2025, sementara recycling rate justru naik jadi 15,47 persen di periode yang sama. Dua tren berlawanan ini nunjukin satu hal, daur ulang berbasis komunitas berkembang justru ketika infrastruktur besar melambat.
Pola ini konsisten sama apa yang dipraktikkan Panggungharjo dan bank sampah digital Serang, dua bukti bahwa penanganan sampah nggak harus menunggu infrastruktur besar selesai dulu buat mulai jalan.
Kenapa Peran Komunitas Makin Krusial
Riset yang sama juga nyoroti kesenjangan antar daerah, ada kota yang bisa mengelola hampir seluruh sampahnya, sementara daerah lain masih jauh tertinggal. Ini yang bikin kongres kayak Kongres Sampah Indonesia relevan: bukan buat gantiin peran pemerintah, tapi buat mempertemukan praktik yang sudah terbukti jalan di satu daerah, biar bisa direplikasi ke daerah lain lewat kolaborasi lintas sektor.
Pertanyaan Seputar Kapasitas Pengelolaan Sampah Nasional
Kenapa kapasitas pengelolaan sampah nasional turun?
Riset NEXT Indonesia Center mencatat penurunan ini terjadi seiring turunnya jumlah daerah yang melapor ke SIPSN, dari ratusan daerah jadi hanya 209 daerah pada 2025, sehingga data dan layanan pengelolaan ikut melemah.
Apa itu recycling rate dan kenapa angkanya naik?
Recycling rate mengukur porsi sampah yang berhasil didaur ulang. Angka ini naik jadi 15,47 persen pada 2025 didorong praktik daur ulang berbasis komunitas seperti bank sampah, meski penerapannya masih timpang antar daerah.
Sumber: NEXT Indonesia Center, Februari 2026