Sejak berdiri tahun 2020, Bank Sampah Digital Serang sudah membuktikan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas bisa berjalan dalam skala besar. Saat ini bank sampah ini sudah punya 315 unit yang tersebar di berbagai wilayah, dengan total 6.800 anggota aktif yang sebagian besar, 98 persen, adalah perempuan.
Model ini jadi salah satu contoh paling kuat kenapa Kongres Sampah Indonesia percaya bahwa pemberdayaan ekonomi lewat sampah bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput.

Bank Sampah Digital Serang mengelola sistem tabungan sampah lewat pendekatan digital, memudahkan pencatatan setoran dan saldo anggota tanpa harus mengandalkan pembukuan manual. Pendekatan ini yang membuat bank sampah ini bisa berkembang cepat sampai ratusan unit dalam waktu relatif singkat.
Kenapa Mayoritas Anggotanya Perempuan
Komposisi 98 persen anggota perempuan bukan kebetulan. Sistem bank sampah memang secara alami dekat dengan peran domestik yang selama ini banyak dijalankan perempuan di rumah tangga, mulai dari memilah sampah dapur sampai mengatur sampah rumah tangga sehari-hari.
Bank Sampah Digital Serang mengubah aktivitas yang tadinya dianggap kerja rumah tangga biasa menjadi sumber penghasilan tambahan yang bisa ditabung dan dicairkan. Ini yang membuat partisipasi perempuan jadi jauh lebih tinggi dibanding program sampah konvensional.
- 315 unit bank sampah tersebar di berbagai wilayah
- 6.800 anggota aktif menabung sampah secara rutin
- 98 persen anggota adalah perempuan
- Berjalan sejak tahun 2020 dengan sistem pencatatan digital
Pelajaran untuk Daerah Lain
Bersama Desa Panggungharjo di Bantul, Bank Sampah Digital Serang jadi salah satu rujukan utama Kongres Sampah Indonesia dalam mendorong narasi bahwa sampah punya nilai ekonomi nyata, bukan sekadar beban yang harus dibuang. Kedua model ini akan dibahas lebih dalam pada Sidang Komisi II yang fokus membahas praktik baik penanganan sampah di level tengah, termasuk soal bank sampah yang menguntungkan.
Cerita seperti ini yang ingin dikonsolidasikan Kongres Sampah Indonesia III, praktik yang sudah terbukti jalan di satu daerah, supaya bisa direplikasi dan dikembangkan di daerah lain.
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.