Kincir air warna-warni menarik perhatian pengunjung Kongres Sampah 2019 di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Dari kejauhan tampilannya seperti karya miniatur biasa, tetapi hampir seluruh bagiannya dibuat menggunakan material plastik bekas.
Bank Sampah Induk Kabupaten Semarang membawa karya tersebut untuk memperlihatkan bahwa material yang sudah tidak digunakan masih dapat diolah menjadi benda dengan nilai estetika dan nilai tambah.

Bekas pipa, kemasan deterjen, sendok plastik, botol dan tutup botol dirangkai menjadi sebuah miniatur yang dapat dipamerkan kepada masyarakat.
Dari Bank Sampah Menjadi Karya
Material untuk membuat kincir diperoleh dari jaringan bank sampah. Sampah yang sudah dipilah lebih mudah dikelompokkan berdasarkan jenis, warna dan kebutuhan pembuat karya.
- Bekas pipa peralon.
- Kemasan plastik deterjen.
- Sendok plastik.
- Botol plastik.
- Tutup botol.
Menurut keterangan pembuatnya dalam laporan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, satu kincir dapat dikerjakan sekitar dua sampai tiga hari. Karya yang dipamerkan memiliki tinggi sekitar 50 sampai 70 sentimeter.
Daur Ulang Juga Bisa Menjadi Media Edukasi
Karya tersebut tidak ditampilkan sekadar sebagai dekorasi. Tujuannya juga menunjukkan kepada pengunjung bahwa plastik bekas dapat memiliki perjalanan lain setelah tidak digunakan.
“Kalau seperti ini kan masyarakat menjadi tahu, oh iya ya, sampah plastik bisa diolah seperti ini.”
Nurkholis, Ketua Bank Sampah Kabupaten Semarang
Kongres Sampah Indonesia dapat menjadi ruang untuk mempertemukan praktik-praktik seperti ini. Ide kecil dari masyarakat dan bank sampah bisa menjadi contoh konkret bahwa pengelolaan sampah juga membuka ruang bagi kreativitas dan kegiatan ekonomi.
Sumber
- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “Kincir Air Limbah Plastik pun Tampak Menawan”, 13 Oktober 2019.