Kongres Sampah II yang berlangsung di Desa Bugisan, kawasan Candi Plaosan, Kabupaten Klaten, pada 25 sampai 26 Juni 2022 menjadi salah satu ruang berbagi praktik pengelolaan sampah. Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam forum tersebut adalah Refuse-Derived Fuel atau RDF.
RDF mengolah fraksi sampah tertentu menjadi bahan bakar alternatif. Dalam Kongres Sampah II, praktik yang dibahas berasal dari fasilitas pengolahan sampah di Jeruklegi, Kabupaten Cilacap.

Forum ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan beragam pendekatan. Pemilahan dari sumber, bank sampah, kompos, pemanfaatan kembali material dan teknologi pengolahan dapat bekerja pada bagian yang berbeda dalam sistem.
Mengenal RDF
Dalam laporan ANTARA mengenai Kongres Sampah II, fasilitas RDF di Jeruklegi disebut memiliki kapasitas pengolahan sampah segar sekitar 120 sampai 160 ton per hari dan menghasilkan sekitar 70 ton produk RDF per hari.
- Sampah masuk ke proses pengolahan.
- Material diproses agar memenuhi karakter yang dibutuhkan.
- Hasil pengolahan menjadi bahan bakar alternatif untuk kebutuhan industri tertentu.
- Teknologi berjalan berdampingan dengan upaya pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.
Teknologi Tidak Berdiri Sendiri
Pembahasan di Kongres Sampah II juga menunjukkan pentingnya pengelolaan dari tingkat masyarakat. Dalam sumber yang sama tercatat kegiatan pendampingan pemilahan sampah dari rumah, pengembangan bank sampah, pengomposan sampah organik dan pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai.
Kongres Sampah Indonesia menjadi ruang penting untuk mempertemukan pendekatan tersebut. Tantangan sampah tidak memiliki satu jawaban tunggal. Sistem yang kuat membutuhkan pengurangan dari sumber, perubahan perilaku, pemilahan, pengolahan material dan teknologi yang sesuai dengan karakter sampah.
Sumber
- ANTARA News Jawa Tengah, “Solusi SBI Berpartisipasi di Kongres Sampah II Tingkat Jateng”, 25 Juni 2022.
No Comment! Be the first one.