Sebuah kostum berbentuk monster dari sampah plastik menjadi salah satu perhatian dalam Kongres Sampah Jawa Tengah 2019 di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. World Cleanup Day Jawa Tengah membawa karya tersebut sebagai media untuk mengajak masyarakat melihat persoalan sampah plastik dengan cara yang berbeda.
Kostum tidak hanya berfungsi sebagai pajangan. Bentuk monster digunakan untuk menggambarkan dampak buruk yang dapat muncul ketika sampah plastik terus dibuang sembarangan dan tidak dikelola dengan baik.

Pesan lingkungan dibuat visual dan mudah diingat. Sampah yang biasanya dianggap tidak berguna justru menjadi alat komunikasi kepada pengunjung kongres.
Edukasi Tidak Harus Berbentuk Ceramah
Pendekatan visual memberi cara lain untuk berbicara tentang sampah. Pengunjung dapat melihat langsung bagaimana material plastik bekas diubah menjadi sesuatu yang menarik perhatian sekaligus membawa pesan lingkungan.
- Mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik.
- Mendorong pemanfaatan kembali material yang masih dapat digunakan.
- Mengenalkan bahwa sebagian plastik dapat masuk ke proses daur ulang.
- Membuat isu sampah lebih mudah dibicarakan kepada masyarakat.
Melihat Sampah sebagai Material
Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia juga membahas bahwa plastik memiliki karakter yang berbeda-beda. Sebagian material memiliki peluang untuk didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi jika tersedia teknologi serta rantai pengelolaan yang sesuai.
Kehadiran karya seperti monster sampah menunjukkan sisi lain dari Kongres Sampah Indonesia. Selain diskusi, forum ini juga menjadi ruang bagi komunitas untuk memperlihatkan cara kreatif menyampaikan edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Sumber
- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “Cosplay Monster dari Sampah Plastik Hadir di Kongres Sampah”, 12 Oktober 2019.
No Comment! Be the first one.